Namaku Dino.
Profesiku, penghibur. Oh tidak, bukan penghibur macam wanita-wanita yang dipajang di
dinding kaca dengan baju minim. Tapi aku adalah badut yang menghibur penonton
dengan gayaku.
Tak sengaja
sebenarnya aku berprofesi ini. Aku adalah lulusan SMA jurusan IPS dan sampai
sebelum aku menjadi badut, aku menganggur. Kupikir dulu aku bisa melanjutkan
kuliah, karena aku pintar dan aku yakin Abah akan mengabulkan keinginanku. Tapi
ternyata Tuhan menggariskan berbeda. Abah meninggal dan kami kehilangan pemasukan
utama keluarga karena saat Abah masih
hidup, ibu memilih tidak bekerja meskipun seringkali
banyak tawaran di pabrik-pabrik rokok lokal. Aku? Harus menelan kecewa
karena tidak
jadi kuliah daripada dua adikku tidak sekolah.
Dan perusahaan
mana sih yang mau menerima SMA jurusan IPS? Kalau kerja tidak borongan di
pabrik-pabrik kecil, mana bisa aku jadi karyawan. Ibu melarang, karena fisikku
lemah, mudah sakit. Kalau aku sakit, maka akan ada pengeluaran tambahan untuk
obat. Dan itu
memberatkan ibu yang sekarang bekerja sebagai tukang cuci di sebuah agen laundry.
Berbulan-bulan aku
menganggur. Hingga suatu hari tanpa sengaja aku bertemu mas Fajar, kakak kelasku dulu, di sebuah bangku
panjang di depan SMA kami. Dia dan seorang temannya sedang duduk menikmati minuman dingin.
Mereka membawa tiga tas besar, yang tampaknya tak akan kuat mereka bawa berdua.
"Mas Fajar!” sapaku di
seberang jalan. Kuhampiri dia lantas kami bersalaman.
"Dari mana,
Mas? Bawaannya
banyak sekali," tanyaku sambil menunjuk tiga tas berwarna hitam.
"Ada job di
Manyar," jawab mas Fajar. Mendengar kata 'job', aku langsung bereaksi
positif. Segera aku duduk di samping mas Fajar.
"Job apa,
Mas?"
"Jadi
badut,"
Kukernyit alis
mendengar kata 'badut'. Dan tampaknya mas Fajar mengerti bahasa tubuhku tadi.
"Aku sudah
sering lihat orang heran kenapa aku mau jadi badut," kata mas Fajar sambil
menghabiskan minumannya. Teman di sampingnya malah tertawa. "Nggak akan ada yang salah dengan menjadi badut, Dino."
Lantas mas Fajar
menjelaskan tentang profesinya. Dia sebenarnya bekerja dengan tiga orang. Satu yang sedang
bersamanya, dua lainnya sedang menerima job di lokasi lain. Mereka memilih untuk
bekerja sendiri dan tidak tergabung dalam sebuah sanggar kesenian. Mereka
menyebarkan sendiri leaflet petunjuk panggilan sewa, mematok harganya dan
membagi empat hasilnya, merancang sendiri penampilan yang menarik perhatian
penonton dan belajar gerakan-gerakan unik dari internet. Setelah berbicara banyak dengan mas Fajar,
terungkap kalau mereka kekurangan orang karena semakin
banyaknya panggilan sewa jasa mereka.
Lalu aku memilih
bergabung dengan mereka. Dan sejak itulah orang kampung memanggilku Dino si
hidung bulat.
Menjadi badut
menyenangkan. Meskipun kadang kami gerah dengan kostum yag berat dan membuat
kami sangat berkeringat, atau kami merasakan gatal yang sangat di wajah dengan
make-up tebal, tapi kami bahagia. Ya, karena penonton tertawa melihat aksi
kami, bahkan anak-anak juga mau memberanikan dirinya bersalaman dengan kami. Mereka
bahagia, adalah nilai lebih dalam pekerjaan ini. Tentunya selain honor sewa jasa.
Dan aku menikmati
menjadi badut. Meskipun ibu sering memintaku untuk mencari pekerjaan lain.
Tampaknya beliau risih dengan profesiku yang sering jadi gunjingan dan bahan
tertawaan di kampung.
"Bu, kalau
ada pekerjaan lain yang aku cocok, baru aku berhenti," ucapku malam itu,
saat ibu menyuruhku mencari pekerjaan lain untuk kesekian kalinya.
"Tapi Nak,
ibu sudah tidak tahan dengar omongan tetangga." Ibu akhirnya mengungkapkan
isi hatinya dengan nada bicara yang terdengar bergetar.
"Sudahlah Bu.
Jangan jadikan hati apa kata orang. Yang penting ini halal," kataku sambil
mengangkat tas berisi kostum badut untuk kusimpan di dalam kamar. Saat kututup
pintu kamar, kulihat ibu tertunduk lesu. Bukan maksudku menyakiti hati ibu,
tapi menjadi
badut itu lebih
baik daripada aku menganggur.
Begitulah
kira-kira profesiku selama dua
setengah tahun ini. Bergabung dengan mas Fajar dan
teman-temannya yang solid, membuatku betah. Namun tiga bulan ini kami sepi job. Mulai banyak
orang yang memilih menjadi badut. Kostum mereka pun semakin beragam daripada
milik kami yang hanya itu-itu saja. Alat-alat mereka pun juga banyak,
menyesuaikan penampilan yang lebih kreatif daripada kami. Kami terlena, dengan
apa yang sudah kami hasilkan selama ini. Istilah manusia tak pernah puas dan mudah bosan, ternyata benar. Zona
nyaman sudah melenakan kami sehingga kami lupa bahwa menjadi badut pun juga
perlu meningkatkan kreatifitas.
Tak tahan dengan
penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, dua anggota kami
memutuskan mencari pekerjaan lain. Kami menjadi semakin terpuruk, tak lagi
saling mendukung. Membuatku bimbang, apakah aku harus mencari pekerjaan lain
ataukah tetap bertahan dengan mas Fajar dan mas Didin.
"Lebih baik
kita bubar saja." Mas Fajar memberikan jalan keluar yang menyakitkan.
"menjadi badut sekarang, ternyata tak memakmurkan," lanjutnya, sambil membelakangi kami,
berpura-pura merapikan peralatan yang tak berserakan.
Aku pun ikut
menyerah seperti mas Fajar dan mas Didin. Lalu kami benar-benar berhenti
menjadi badut. Aku kembali menganggur dan kembali bersahabat dengan jalanan
untuk mencari pekerjaan. Bertandang dari gerbang pabrik satu ke gerbang pabrik
yang lainnya. Dua alasan lamaranku ditolak, pertama karena aku tak memiliki
pengalaman kerja dan kedua karena aku bukan fresh graduation. Sepertinya banyak
pabrik sekarang yang menggunakan tenaga 'anak baru lulus' dengan alasan mereka
mau dibayar dengan gaji murah. Ah, tak pabrik tak apa. Kudatangi satu per satu
rumah.
"Maaf Mas,
kami butuh perempuan. Soalnya buat bersihkan rumah." Begitulah
kira-kira kalimat penolakan yang aku terima.
Siang itu terik
sekali. Keringatku berlomba keluar dari lubang-lubang kulit karena angin tak
satu pun mau menerpa. Saat kurogoh kantong celanaku, tak ada receh satu pun.
Pun juga dompetku, nihil. Padahal di ujung jalan ada gerobak es cincau yang juga
menjual gorengan murah. Sebenarnya lumayan untuk mengganjal perut yang dari
pagi hanya terisi tiga tempe mendokan buatan ibu. Aku benar-benar lapar.
Tuhan, maafkan aku. Abah tak pernah mengajarkan aku meminta-minta.
Tapi kali ini, aku sudah tak kuat lagi.
Aku kali ini
pasrah. Berdiri di depan sebuah toko kelontong yang ramai pengunjung, kemudian
kuangkat tanganku untuk meminta sedikit sedekah dari mereka. Mungkin wajahku
yang sudah pucat atau penampilanku yang kebetulan sudah kucel, dengan mudahnya
mereka memberiku sedekah dan saat kukumpulkan, hasilnya lumayan untuk memberi
sekantong plastik gorengan.
"Alhamdulillah."
Aku bersyukur masih ada yang welas
padaku.
Tiap hari kudatangi
lagi rumah-rumah, dan kali ini lokasinya lebih jauh dari biasanya. Tetap sama,
mereka melontarkan jawaban yang sama. Penolakan. Begitu berulang-ulang hingga
jalanku mulai terseok-seok karena tak ada lagi tenaga. Aku pun kembali
meminta-minta. Kali ini tak hanya satu toko kelontong, tapi tiga. Tentunya
receh yang kudapat pun semakin banyak daripada sebelumnya. Kali ini, tak hanya
sekantung plastik gorengan yang kubeli, tapi juga empat bungkus nasi campur.
Nikmatnya mendapat
uang secara instan dengan meminta-minta ternyata membuatku ketagihan.
Kutaruhkan tingkat maluku pada jumlah uang yang kudapatkan dari meminta-minta. Ibu
seringkali bertanya darimana kudapatkan uang untuk membeli gula, beras atau
makan malam kami.
"Bu, yang
penting uang itu halal." Hanya itu saja jawabanku. Ya, halal. Meskupun aku
tahu kalau meminta-minta kurang dianjurkan dalam agamaku. Tapi aku tak malas. Aku sudah
berusaha sekuat tenaga mencari pekerjaan kesana-kemari.
Beginilah
rutinitasku sekarang. Berlagak menjadi peminta.
Namun, suatu
malam, ibu dan Nina menghampiriku.
"Dino, ibu
kali ini benar-benar gerah dengan omongan tetangga." Ibu membuka
pembicaraan kami dengan keluhan, seperti biasanya.
"Apalagi
Bu?" tanyaku dengan suara kurendahkan. Mencoba tak kesal dengan sikap ibu yag suka sekali
menggubris omongan tetangga.
"Ada yang
melihat Mas Dino mengemis."
Aku tersontak
dengan jawaban adik pertamaku itu. Sempat aku terdiam, meskipun hanya sejenak "Kamu
percaya?" tanyaku pada Nina. Dia diam, nampak ragu akan menjawab ya atau tidak.
"Tapi
Mas.." ucap Nina, tapi urung dilanjutnya.
"Tapi
apa?" tanyaku.
"Tapi tak
hanya satu dua orang yang bilang, Mas. Bahkan bu Satri dari RT sebelah juga bilang ke aku."
"Bahkan bu
Yusuf pun menegur ibu," sahut ibu dengan mencondongkan badannya ke depan
dan meletakkan tangan kanannya di dada.
"Menegur?
Untuk apa?" tanyaku meremehkan, menutupi degup jantungku yang kian
kencang.
"Menasehatimu
supaya kamu tak mengemis lagi," ucap ibu sambil menyentuh telapak
tanganku.
"Ibu percaya
padanya?"
"Nak, bu
Yusuf adalah orang baik dan jujur yang paling ibu kenal," jawab ibu,
sepertinya mencoba tak memihak siapa-siapa.
Degup jantungku
pun sudah tak lagi terdengar, mendadak kepalaku berat rasanya, tubuhku kaku, telinga
dan mataku sepertinya sudah tak lagi berfungsi. Tanpa kusadari, aku menangis kencang di pangkuan ibu.
"Maafkan aku,
Bu. Semua itu kulakukan supaya aku tak menjadi beban ibu. Supaya kita tak lagi
kelaparan saat malam.” Kusampaikan alasan-alasan yang selama ini memang menjadi ganjalan di
pikiranku.
Nina menutup
mulutnya dengan kedua tangannya, sedangkan ibu terdiam mematung. Keduanya masih tak percaya
dengan apa yang kusampaikan tadi.
"Abah dan ibu
tak mengajarimu meminta-minta, Dino!"ucap ibu dengan terisak-isak. Semakin
ibu kencang menangis, aku pun juga semakin kencang menangis.
Dan malam ini kami
tidur dengan bermuram hati.
***
"Kau tahu,
masih banyak cara mencari uang," kelakar pak Syafrul saat dia bertanya
tentang gosip tetangga yang sudah kadung tersebar. Aku diam, berpura-pura
memandang halaman mushola yang kering.
"Kamu anak
baik, karena Abahmu baik," kata pak Syafrul sambil menepuk bahuku. "Aku
yakin, Dino, meminta-minta bukanlah ajaran Abahmu."
Kudengarkan
rangkaian kata pak Syafrul dan membenarkannya. Sudah tak ada tenaga lagi bagiku
untuk mengelak, kepalang malu.
Beberapa hari
kemudian, kubulatkan tekad menemui mas Fajar di rumahnya. Berharap mas Fajar
mau diajak kembali pentas sebagai badut. Aku disambutnya, dengan tangan terbuka
dan telinga yang bersedia mendengarkan kisahku. Dan kami berdua kembali
bertekad menjadi badut, meskipun saingan sudah tak terhitung jumlahnya. Karena
akhirnya kami menyadari, bahwa menjadi badut adalah profesi yang kami suka.
PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1
Hmmm...
BalasHapushmmm juga ah kayak Ade... :p
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus